Pendahuluan
Typhus abdominalis merupakan penyakit
menular yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi yang tidak mudah diprediksi, karena gambaran
klinisnya menyerupai infeksi lain yang disertai demam. Beberapa kasus di negara
berkembang, infeksi typhus sering diremehkan karena perangkat pemeriksaan
laboratorium yang kurang menunjang, sehingga tak jarang infeksi ini luput dari
diagnosis. Penularan typhus abdominalis melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi feses atau urin penderita dan menyerang usus halus sehingga
menyebabkan gangguan saluran cerna dan pasien pun kehilangan nafsu makan.
Selain itu gejala lainnya adalah demam tinggi (dapat mencapai 40oC),
sakit kepala, nyeri dan linu seluruh tubuh, lemas hingga disertai gangguan
kesadaran (delirium). Kematian dapat terjadi sebagai akibat infeksi berat,
komplikasi pneumonia, perdarahan dan perforasi intestinal. Dengan pemberian
antibiotik dan perawatan yang tepat, mortalitas dapat diturunkan 1-2%. Setelah
1-2 hari pemberian anibiotik yang sesuai, biasanya akan tampak perbaikan pada
pasien dan berangsur sembuh dalam 7-10 hari kemudian.
Etiologi dan Epidemiologi Typhus
Abdominalis
Penyakit Typhus
Abdominalis disebabkan oleh kuman Salmonella
thyposa/Eberthella typhosa basil gram negatif yang bergerak dengan
rambut getar dan tidak berspora dengan masa inkubasi 10-20 hari (Suriadi, 2001
: 282). Sampai saat ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.
Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang
lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C maupun oleh
antiseptik. Sampai saat ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.
Salmonella typhosa mempunyai 3 macam antigen, yaitu :
- Antigen
O : Onne Hauch : Somatik antigen (tidak menyebar)
- Antigen
H : Hauch (menyebar), terdapat pada flagella dan bersifat termolabil
- Antigen
V1 : kapsul, merupakan kapsul yang meliputi
tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis.
Ketiga jenis antigen tersebut di dalam
tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga macam antibodi yang lazim
disebut Aglutinin. (Rampengan, 2008 : 47).
Typhus abdominalis masih banyak dijumpai
di negara berkembang termasuk Indonesia dan dapat menyebabkan wabah dengan anka
morbiditas 500/100.000 penduduk serta mortalitas 0.65%. Di Indonesia, WHO
mencatat rerata kasus typhus sebanyak 900.000 per tahun dengan kematian
sebanyak 20.000 orang. Selain itu WHO juga mencatat dari 91% pasien berusia
3-19 tahun yang menderita demam typhus terdapat 1.026 per 100.000 per tahun
yang memiliki hasil kultur darah typhus positif.
Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat
ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan),
Finger (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Kuman
masuk melalui mulut dengan perantara makanan dan minuman yang tercemar
sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke
usus halus, ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus (kripte
lamina propria) kemudian kuman masuk keperedaran darah bakterimia primer,
disini bisa menyebabkan resiko tinggi komplikasi. Setelah itu mencapai sel-sel
retikulo endoteleal, hati, limpa, dan organ-organ lainnya. Proses ini terjadi
dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikulo endoteleal melepaskan
kuman kedalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya.
Selanjutnya kuman masuk kebeberapa jaringan organ tubuh, terutama limpa, usus
dan kandung empedu kemudian menyebabkan respon peradangan oleh endotoksin
kemudian menyebabkab demam dan akhirnya bisa menimbulkan resiko kekurangan
volume cairan, penurunan kesadaran ( Apatis ) dan perubahan persepsi sensori.
Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang
Gambaran klinis Typhus Abdominalis pada
anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa tunas 10-20 hari. Yang
tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan sedangkan jika melalui
minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala,
prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan
tidak bersemangat, nafsu makan kurang.
Walaupun gejala penyakit Typhus
Abdominalis pada anak lebih bervariasi, secara garis besar
gejala-gejala yang timbul dapat dikelompokan :
- Demam
berlangsung 3 minggu, selama minggu pertama suhu tubuh berangsur-angsur
naik (38,8OC-40OC), biasanya menurun pada pagi hari dan
meningkat lagi pada sore dan malam hari. Minggu kedua masih berada dalam
keadaan demam dan pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur turun dan
normal kembali pada akhir minggu ketiga.
- Gangguan
saluran pencernaan, pada mulut terdapat napas berbau tidak sedap, bibir
kering dan pecah-pecah. Lidah tertutup selaput putih, kotor, ujung dan
tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen ditemukan keadaan
perut kembung. Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan.
Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.
- Gangguan
kesadaran, umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu
apatis sampai somnolen, jarang sopor, koma atau gelisah. Pada punggung dan
anggota gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik kemerahan karena
emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama
demam. Kadang-kadang ditemukan bradikardia dan epistaksis pada anak
besar. (Ngastiyah, 2005 : 237).
Pemeriksaan laboratorium berupa
pemeriksaan :
- Darah
tepi
Pada penderita demam tifoid bisa
didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa menurun atau meningkat, mungkin
didapatkan trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit,
mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama pada fase
lanjut.
- Pemeriksaan
untuk kultur (biakan)
Diagnosis pasti demam tifoid dapat
ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi dalam biakan dari
darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari rose
spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih mudah
ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada
stadium berikutnya di dalam urine dan feses.
Hasil biakan yang positif memastikan demam
tifoid akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena
hasilnya tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
biakan meliputi jumlah darah yang diambil, perbandingan volume darah dari media
empedu, dan waktu pengambilan darah.
Volume 10-15 ml dianjurkan untuk anak
besar, sedangkan pada anak kecil dibutuhkan 2-4 ml.Sedangkan volume sumsum
tulang yang dibutuhkan untuk kultur hanya sekitar 0.5-1 ml.Bakteri dalam sumsum
tulang ini juga lebih sedikit dipengaruhi oleh antibiotika daripada bakteri
dalam darah. Biakan empedu terdapat basil Salmonella typhosa urine dan tinja,
jika pemeriksaan selama 2 kali berturut-turut tidak didaptkan basil salmonella
typhosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan sembuh.
- Pemeriksaan
widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi
antara antigen dan antibodi (aglutinin). Prinsip uji Widal adalah memeriksa
reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami
pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang
ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Aglutinin yang
spesifik terhadap salmonella typhi terdapat dalam serum klien dengan typhoid
juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan
pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di
laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya
aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. (Suriadi,
2006 : 283 dan Ngastiyah, 2005 : 238).
Tata
Laksana
Dalam manajemen medik untuk
penderita typhus abdominalis mencakup 3 hal yaitu :
- Diet
Makanan untuk penderita typhus
abdominalis adalah makanan yang sesuai dengan keadaan penderita
dengan memperhatikan segi kualitas ataupun kuantitas dapat diberikan dengan
aman. Kualitas makanan disesuaikan dengan kebutuhan baik kalori, protein,
elektrolit, vitamin ataupun mineral serta diusahakan makanan yang rendah atau
bebas serat dan menghindari makanan yang bersifat iritatif. Bila kesadaran
klien menurun diberikan makanan cair melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan
nafsu makan klien baik dapat juga diberikan makanan lunak dengan tujuan agar
tidak merusak plaks peyer yang membesar atau menipis dan
mencegah perforasi sarta perdarahan.
- Perawatan
Pasien typhus abdominalis perlu
di rawat di Rumah Sakit untuk isolasi observasi dan pengobatan, pasien harus
tirah baring absolut sampai minimal 5-7 hari bebas demam atau kurang lebih
selama 14 hari maksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi
terjadinya komplikasi perdarahan usus dan perporasi usus, mobilisasi pasien
dilakukan secara bertahap sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
Penularan salmonella thypi dapat
ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan),
Finger (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Maka dari itu kita harus selalu menjaga dan melakukan perawatan secara maksimal
supaya bisa mencegah penularan tersebut terjadi.
- Pengobatan
1)
Kloramfenikol
Merupakan obat antimikroba pilihan utama
untuk typhus abdominalis. Pemberian kloramfenikol dengan dosis
tinggi, yaitu 25 mg/kg BB (maksimum 1 gram per dosis) diberikan 4 kali sehari
peroral atau intravena.
2)
Kotrimoksazol
Efektifitasnya kurang lehih sama
dengan kloramfenikol digunakan sampai 7 hari bebas demam (1 tablet mengandung
80 mg trimetoprin dan 400 mg sulfa metoksazol)
3) Ampisilin
dan Amoksilin
Indikasi mutlak penggunaannya adalah
pasien typhus abdominalis dengan leucopenia. Dosis yang dianjurkan berkisar
antara 75-150 mg/kg berat badan sehari, digunakan sampai 7 hari bebas
demam. Dengan ampisilin atau amoksilin demam pada typhus abdominalis turun
rata-rata setelah 7-9 hari
4) Sefalosforin
generasi ketiga
Golongan sefalosforin golongan ketiga yang
terbukti efektif untuk penyakit typhus abdominalis adalah
seftiakson, dosis yang dianjurkan adalah 3-4 gram dalam dektrosa 100 cc
diberikan selama setengah jam perinfus sekali sehari, diberikan selama
3-5 hari. (Rampengan, 2008 : 58-62).
Terapi empirik yang banyak digunakan di
berbagai negara adalah golongan fluorokuinolon. Namum demikian, resistensi
fluorokuinolon telah meluas, sehingga golongan generasi ketiga sefalosporin
yang diberikan secara injeksi dapat merupakan obat pilihan dalam tata laksana
typhus.
Komplikasi Typhus Abdominalis
- Sistem
Persyarafan
Klien dengan penyakit typhus
abdominalis ini dapat mengakibatkan terjadinya peradangan oleh bakteri
yang mengenai seluruh organ tubuh melalui pembuluh limfa diantaranya, saraf
pusat atau otak. Dan hal ini dapat menyebabkan menurunnya kesadaran klien dari
apatis, somnolen hingga sopor apabila penyakit tersebut terlambat dalam
penanganannya (Ngastiyah, 2005 : 237).
- Sistem
Kardiovaskuler
Kuman salmonella masuk
kedalam usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa (Ig
A) usus kurang baik maka kuman menembus sel epitel (terutama sel M) dan
selanjutnya kelamina propia. Dilamina propia kuman di fagosit oleh
sel-sel fagosit terutama makrophage. Makrophage pada penderita akan
menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines, selanjutnya monokines ini
dapat menyebabkan instabilitas vaskuler dan mengakibatkan adanya gangguan
sirkulasi yaitu perubahan tanda-tanda vital seperti bradikardi pada perabaan
nadi (Rampengan 2008 : 63).
- Sistem
Pernafasan
Jika klien dalam keadaan demam biasanya
frekuensi dan kedalaman nafas meningkat. Peningkatan tersebut dapat juga
terjadi akibat nyeri karena peradangan usus halus. Hal ini merangsang sinyal
dari sumsum tulang belakang dihantarkan melalui dua jalur yaitu spinal thalamus
traktus (STT) ke spinal respiratori traktus (SRT), dari spinal respiratori
traktus dihantarkan ke medulla oblongata hingga mengakibatkan neural
inspiratory yang akan meningkatkan frekuensi nafas (Mansyur, 2002 : 42).
- Sistem
Muskuloskeletal
Pada typhus abdominalis kemungkinan
akan terjadi keluhan yang berhubungan dengan sistem musculoskeletal berupa
nyeri otot, kelemahan fisik akibat produksi makrophage yang menghasilkan monokises
yang mengakibatkan nekrosis seluler. Biasanya klien mengalami osteomielitis
yang disebabkan oleh bakteri yang masuk pada jaringan tulang melalui pembuluh
darah (Rampengan : 2008 : 56)
- Sistem
Perkemihan
Pada penderita typhus abdominalis ini
biasanya terjadi peningkatan suhu tubuh sehingga akan mengakibatkan terjadinya
diaforesis yang berlebih lewat keringat akibatnya penderita biasanya lebih
banyak minum dan ini akan meningkatkan kerja ginjal, sehingga klin akan sering
mengalami BAK (Ngastiyah, 2005 : 237 ).
- Sistem
Integumen
Klien dengan penyakit typhus
abdominalis ini dapat terjadi kerusakan integritas kulit seperti lesi.
Hal ini disebabkan karena klien mengalami bedrest. Selain itu emboli basil
dalam kapiler kulit terutama pada daerah punggung dan anggota gerak dapat
ditemukan adanya roseola yaitu berupa bintik-bintik kemerahan yang dapat
ditemukan pada minggu pertama demam (Ngastiyah, 2005 : 237).
- Sistem
Pencernaan
Komplikasi pada usus
halus umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering fatal.
1)
Perdarahan usus
Bila sedikit hanya ditemukan jika
dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi
melena, dapat disertai nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan.
2) Perforasi
usus
Timbul biasanya pada minggu ketiga atau
setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai
peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum,
yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada
foto Rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
3)
Peritonitis
Biasanya disertai perforasi tetapi dapat
terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut
yang hebat, dinding abdomen tegang.
- Komplikasi
di luar usus, terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis
(bakteremia), yaitu meningitis, kolesistisis, ensefalopati, dan lain-lain.
Terjadi karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia. (Ngastiyah,
2005 : 237).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar