Halaman

Sabtu, 05 Mei 2018

MALARIA


PENDAHULUAN
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Dikenal 5 (lima) macam spesies yaitu: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae dan Plasmodium knowlesi. Parasit yang terakhir disebutkan ini belum banyak dilaporkan di Indonesia

Penularan malaria memang amat jarang secara langsung, tapi biasanya malaria terjadi dengan proses penularan bila ada kontak dengan darah penderita maupun janin yang terserang infeksi disebabkan penularan dari darah ibunya. Di Indonesia sendiri, tak hanya kasus demam berdarah saja yang persentasenya tinggi, malaria pun memiliki 400 ribu kasus tiap tahun.
Malaria sama mengancamnya dengan demam berdarah dan hal ini terbukti dari adanya 4 ribu kasus lebih di mana penderita malaria mengalami komplikasi dan bahkan dapat meninggal. Namun, anak-anaklah yang paling sering terkena kasus malaria dan gejala yang muncul dapat bertahan selama 1-2 minggu sesudah tubuh terinfeksi oleh parasit.
GEJALA MALARIA SECARA UMUM

Sebelum membahas tentang jenis-jenis malaria berikut segala detilnya, kita juga perlu tahu seperti apa malaria secara umum, termasuk gejalanya. Gejala dari malaria dapat terjadi dengan adanya kondisi demam, mual, muntah, menggigil, diaresakit kepala serta nyeri sendi di mana tubuh seluruhnya terasa begitu pegal dan tak nyaman untuk dipakai beraktivitas. Gejala malaria ringan secara umum dibagi menjadi 3 fase, yaitu:
·         Stadium Dingin – Pada fase atau level ini penderita akan merasakan sekujur tubuhnya kedinginan dan bakal menggigil secara luar biasa. Tak hanya itu, denyut nadi pun bisa lebih cepat dari biasanya hanya saja kemudian menjadi lemah. Yang paling mengkhawatirkan adalah jari dan bibir yang kemudian menjadi kebiruan di mana artinya dapat berubah warna.
·         Stadium Demam – Pada fase atau tahap ini penderita pada umumnya bakal mengalami panas dengan wajah mulai memerah disertai kondisi muntah-muntah. Bahkan pada fase ini penderita pun bakal sering sakit kepala dan kulit juga menjadi lebih kering. Suhu tubuh pun termasuk tinggi karena pada banyak kasus dapat mencapai hingga 40 derajat Celsius dan bisa lebih dari itu. Penderita juga berpotensi mengalami kejang dan berlangsungnya antara 2-4 jam.
·         Stadium Berkeringat – Pada level atau fase ini, penderita akan selalu berkeringat dan suhu tubuh bisa berada di bawah rata-rata yang artinya tubuh menjadi dingin. Hal ini kemudian malah membuat penderita mudah merasa haus karena keringat yang keluar terlalu banyak sehingga terkena dehidrasi. Bila tak segera ditangani, maka penderita bisa memiliki tubuh yang semakin lemah karena kekurangan cairan.
Gejala tersebut adalah pada kondisi malaria yang ringan, sementara untuk malaria yang termasuk berat, tanda-tandanya antara lain adalah:
·         Kehilangan kesadaran atau pingsan.
·         Dehidrasi
·         Kejang
·         Sesak nafas atau malah bernapas secara lebih cepat dari biasanya.
·         Sulit bicara dengan benar.
·         Sering mengigau.
Ketika sudah diketahui adanya gejala dari malaria maka demi memastikan bahwa kondisi gejala benar-benar merujuk pada malaria, maka si penderita harus menempuh diagnosa. Barulah pengobatan bisa ditentukan oleh dokter ketika sudah benar-benar diketahui jenis malaria, tahap gejala dan juga penyebab malaria tersebut. Untuk itu, penting untuk mengetahui dan mengenali jenis-jenis malaria supaya kita bisa mewaspadai sekaligus tahu penanganan yang tepat.
JENIS-JENIS MALARIA
1. Malaria Falsiparum
Disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Gejala demam timbul intermiten dan dapat kontinyu. Jenis malaria ini paling sering menjadi malaria berat yang menyebabkan kematian.

2. Malaria Vivaks
Disebabkan oleh Plasmodium vivax. Gejala demam berulang dengan interval bebas demam 2 hari.Telah ditemukan juga kasus malaria berat yang disebabkan oleh Plasmodium vivax.

3. Malaria Ovale
Disebabkan oleh Plasmodium ovale. Manifestasi klinis biasanya bersifat ringan. Pola demam seperti pada malaria vivaks.

4. Malaria Malariae
Disebabkan oleh Plasmodium malariae. Gejala demam berulang dengan interval bebas demam 3 hari.

5. Malaria Knowlesi
Disebabkan oleh Plasmodium knowlesi. Gejala demam menyerupai malaria falsiparum.

STANDAR DIAGNOSIS

1. Setiap individu yang tinggal di daerah endemik malaria yang menderita demam atau memiliki riwayat demam dalam 48 jam terakhir atau tampak anemi; wajib diduga malaria tanpa mengesampingkan penyebab demam yang lain.

2. Setiap individu yang tinggal di daerah non endemik malaria yang menderita demam atau riwayat demam dalam 7 hari terakhir dan memiliki risiko tertular malaria; wajib diduga malaria. Risiko tertular malaria termasuk : riwayat bepergian ke daerah endemik malaria
atau adanya kunjungan individu dari daerah endemik malaria di lingkungan tempat tinggal penderita.

3. Setiap penderita yang diduga malaria harus diperiksa darah malaria dengan mikroskop atau RDT.

4. Untuk mendapatkan pengobatan yang cepat maka hasil diagnosis malaria harus didapatkan dalam waktu kurang dari 1 hari terhitung sejak pasien memeriksakan diri.

STANDAR PENGOBATAN

1. Pengobatan penderita malaria harus mengikuti kebijakan nasional pengendalian malaria di Indonesia.

2. Pengobatan dengan ACT hanya diberikan kepada penderita dengan hasil pemeriksaan darah malaria positif.

3. Penderita malaria tanpa komplikasi harus diobati dengan terapi kombinasi berbasis  artemisinin (ACT) plus primakuin sesuai dengan jenis plasmodiumnya.

4. Setiap tenaga kesehatan harus memastikan kepatuhan pasien meminum obat sampai habis melalui konseling agar tidak terjadi resistensi Plasmodium terhadap obat.
             
5. Penderita malaria berat harus diobati dengan Artesunate intramuskular atau intravena dan dilanjutkan ACT oral plus primakuin.

6. Jika penderita malaria berat akan dirujuk, sebelum dirujuk penderita harus diberi dosis awal Artesunate intramuskular/ intravena.
 Gambar terkait

Pengobatan malaria berat

Artesunat intravena merupakan pilihan utama. Jika tidak tersedia dapat diberikan kina drip. Artesunat diberikan dengan dosis 2,4 mg/kgbb intravena sebanyak 3 kali jam ke 0, 12, 24. Selanjutnya diberikan 2,4 mg/kgbb intravena setiap 24 jam sehari sampai penderita mampu minum obat.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria; Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI : 2017

GAGAL GINJAL AKUT


Pendahuluan
Gagal ginjal akut merupakan istilah yang merujuk pada kondisi rusaknya ginjal/ kegagalan fungsi ginjal secara mendadak dalam hitungan jam atau beberapa hari. Biasanya, gagal ginjal akut terjadi sebagai komplikasi dari penyakit serius lainnya, dan umumnya diderita oleh orang tua atau pasien perawatan intensif di rumah sakit. Jika tidak ditangani dengan segera, gagal ginjal akut bisa membahayakan nyawa penderitanya.
Gejala Gagal Ginjal Akut
Beberapa gejala gagal ginjal akut yang umumnya muncul adalah:
§  Berkurangnya produksi urine.
§  Mual dan muntah.
§  Nafsu makan berkurang.
§  Bau napas menjadi tidak sedap.
§  Sesak.
§  Tingginya tekanan darah.
§  Mudah lelah.
§  Penumpukan cairan dalam tubuh (edema), yang dapat menyebabkan pembengkakan pada tungkai atau kaki.
§  Penurunan kesadaran.
§  Dehidrasi.
§  Kejang.
§  Tremor.
§  Nyeri pada punggung, di bawah tulang rusuk (flank pain).
Pada fase awal, gagal ginjal akut biasanya tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, penyakit ini bisa memburuk dengan cepat dan tiba-tiba penderita mengalami beberapa gejala di atas.

Penyebab Gagal Ginjal Akut

Gagal ginjal akut dapat terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke ginjal (pre renal), seperti pada:
§  Volume darah yang rendah karena perdarahan, muntah dan diare berlebihan sehingga mengakibatkan dehidrasi berat, luka bakar.
§  Jumlah darah yang dipompa jantung di bawah normal karena syok anafilaktik, gagal hati, gagal jantung atau sepsis.

Lalu gagal ginjal akut juga dapat terjadi akibat cedera pada ginjal sendiri (faktor renal) akibat:
§  Penyakit tertentu, contoh glomerulonefritis, sindrom hemolitik uremik, vaskulitis, dan skleroderma.
§  Penggumpalan darah pada pembuluh darah vena dan arteri ginjal.
§  Infeksi.
§  Obat-obatan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid dan antibiotik aminoglikosida.
§  Cairan kontras yang digunakan pada saat pemeriksaan foto Rontgen atau CT Scan.
§  Racun lainnya, seperti alkohol atau logam berat
Selain itu, gagal ginjal akut dapat diakibatkan oleh tersumbatnya saluran urine (post renal), sehingga limbah dari ginjal tidak bisa dibuang melalui urine. Tersumbatnya aliran urine ini dapat disebabkan oleh:
§  Pembesaran prostat
§  Tumor daerah panggul, contoh tumor kandung kemih atau ovarium.

Faktor Risiko Gagal Ginjal Akut

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terkena gagal ginjal akut, yaitu:
§  Menderita diabetes, hipertensi, obesitas, dan penyakit hati.
§  Menderita penyakit ginjal sebelumnya, seperti gagal ginjal kronis.
§  Menderita penyakit arteri perifer.
§  Berusia 65 tahun atau lebih.
§  Sedang menjalani perawatan di ruang intensif.

Diagnosis Gagal Ginjal Akut

Untuk mendiagnosis gagal ginjal akut, dokter akan melakukan beberapa hal berikut:
§  Tes urine dan pengukuran volume urine yang keluar.
§  Tes darah yang meliputi pemeriksaan ureum dan kreatinin (GFR), kadar kalium dan albumin
§  Pemindaian (USG, CT Scan).
§  Biopsi ginjal
Biasanya, pasien dewasa bisa disimpulkan terkena gagal ginjal akut jika hasil diagnosis menunjukkan bahwa:
§  Kandungan kreatinin dalam darah di ­­atas normal dan terus meningkat.
§  Selain kreatinin, peningkatan ureum darah yang cepat juga terjadi pada gagal ginjal akut.
§  Volume urine yang dibuang berkurang.
Tes pemindaian seperti USG ginjal ataupun CT scan dapat digunakan untuk mencari penyebab gagal ginjal akut, misalnya ada penyumbatan pada sistem saluran kemih. Pemeriksaan dengan mengambil sebagian jaringan ginjal sebagai sampel untuk diperiksa di bawah mikroskop (biopsi), terkadang diperlukan untuk menentukan penyebab gagal ginjal akut.

Pengobatan Gagal Ginjal Akut

Gagal ginjal akut yang masih tergolong ringan bisa disembuhkan melalui rawat jalan. Sebaliknya, pasien gagal ginjal akut yang tergolong berat harus menjalani rawat inap. Durasi pengobatan tiap pasien tergantung dari penyebab gagal ginjal akut dan rentang waktu pemulihan ginjal itu sendiri.
Jika dapat menjalani rawat jalan, maka dokter akan menyarankan pasien gagal ginjal akut untuk:
§  Memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
§  Menghentikan obat-obatan yang dapat memicu atau memperparah gagal ginjal akut.
§  Mengobati infeksi yang mendasari terjadinya gagal ginjal akut apabila ada.
§  Monitor kadar kreatinin dan elektrolit untuk melihat kesembuhan.
§  Berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi atau spesialis ginjal apabila penyebab gagal ginjal akut tidak jelas, atau apabila terdeteksi adanya penyebab lain yang lebih serius.
Pasien gagal ginjal akut akan diminta untuk menjalani rawat inap jika mengalami kondisi sebagai berikut:
§  Penyakit yang menyebabkan gagal ginjal akut membutuhkan pengobatan segera.
§  Adanya risiko penyumbatan saluran urine.
§  Kondisi pasien memburuk.
§  Terdapat komplikasi.
Pada kondisi gagal ginjal akut yang berat, pasien akan membutuhkan cuci darah. Cuci darah yang dilakukan pada gagal ginjal akut hanya sementara sampai fungsi ginjal kembali pulih, kecuali bila kerusakan yang terjadi pada ginjal bersifat permanen. Beberapa keadaan pada gagal ginjal akut yang membutuhkan penanganan dengan cuci darah di antaranya adalah hiperkalemia, penurunan kesadaran, dan perikarditis.

Komplikasi Gagal Ginjal Akut

Sejumlah komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit gagal ginjal akut adalah:
§     Asidosis metabolik. Asidosis metabolik menyebabkan pusing, mual dan muntah, serta sesak.
§  Kerusakan ginjal permanen. Gagal ginjal akut yang berkomplikasi menjadi gagal ginjal kronis membutuhkan cuci darah secara permanen atau tranplantasi ginjal.
§  Hiperkalemia. Hiperkalemia atau tingginya kadar kalium dalam darah bisa menyebabkan otot melemah, kelumpuhan, dan aritmia.
§     Edema paru. Edema paru terjadi ketika terjadi penumpukan cairan di dalam paru-paru.
§ Perikarditis. Peradangan pada perikardium, yaitu selaput yang membungkus jantung, akan menyebabkan keluhan nyeri dada.
§    Kematian. Kematian lebih berisiko terhadap pasien yang sudah memiliki penyakit ginjal sebelumnya.

Pencegahan Gagal Ginjal Akut

Semua orang yang berisiko terkena gagal ginjal akut harus diawasi saat mereka sakit atau memulai pengobatan baru. Orang-orang tersebut disarankan untuk menjalani tes darah dan mengecek volume urine secara rutin.
Ikutilah petunjuk penggunaan yang tertera pada label kemasan ketika mengonsumsi obat bebas (contohnya ibuprofen) dan taati nasihat dokter untuk menjaga tubuh dari penyakit yang bisa menyebabkan gagal ginjal akut.

TYPHUS ABDOMINALIS


Pendahuluan
Typhus abdominalis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi yang tidak mudah diprediksi, karena gambaran klinisnya menyerupai infeksi lain yang disertai demam. Beberapa kasus di negara berkembang, infeksi typhus sering diremehkan karena perangkat pemeriksaan laboratorium yang kurang menunjang, sehingga tak jarang infeksi ini luput dari diagnosis. Penularan typhus abdominalis melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses atau urin penderita dan menyerang usus halus sehingga menyebabkan gangguan saluran cerna dan pasien pun kehilangan nafsu makan. Selain itu gejala lainnya adalah demam tinggi (dapat mencapai 40oC), sakit kepala, nyeri dan linu seluruh tubuh, lemas hingga disertai gangguan kesadaran (delirium). Kematian dapat terjadi sebagai akibat infeksi berat, komplikasi pneumonia, perdarahan dan perforasi intestinal. Dengan pemberian antibiotik dan perawatan yang tepat, mortalitas dapat diturunkan 1-2%. Setelah 1-2 hari pemberian anibiotik yang sesuai, biasanya akan tampak perbaikan pada pasien dan berangsur sembuh dalam 7-10 hari kemudian.
Etiologi dan Epidemiologi Typhus Abdominalis
Penyakit Typhus Abdominalis disebabkan oleh kuman Salmonella thyposa/Eberthella typhosa basil gram negatif yang bergerak dengan rambut getar dan tidak berspora dengan masa inkubasi 10-20 hari (Suriadi, 2001 : 282). Sampai saat ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia. Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C maupun oleh antiseptik. Sampai saat ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.
Salmonella typhosa mempunyai 3 macam antigen, yaitu :
  1. Antigen O : Onne Hauch : Somatik antigen (tidak menyebar)
  2. Antigen H : Hauch (menyebar), terdapat pada flagella dan bersifat termolabil
  3. Antigen V1 : kapsul, merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis.
Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga macam antibodi yang lazim disebut Aglutinin.  (Rampengan, 2008 : 47).
Typhus abdominalis masih banyak dijumpai di negara berkembang termasuk Indonesia dan dapat menyebabkan wabah dengan anka morbiditas 500/100.000 penduduk serta mortalitas 0.65%. Di Indonesia, WHO mencatat rerata kasus typhus sebanyak 900.000 per tahun dengan kematian sebanyak 20.000 orang. Selain itu WHO juga mencatat dari 91% pasien berusia 3-19 tahun yang menderita demam typhus terdapat 1.026 per 100.000 per tahun yang memiliki hasil kultur darah typhus positif.
Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Finger (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Kuman masuk melalui mulut dengan perantara makanan dan minuman yang tercemar  sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus, ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus (kripte lamina propria) kemudian kuman masuk keperedaran darah bakterimia primer, disini bisa menyebabkan resiko tinggi komplikasi. Setelah itu mencapai sel-sel retikulo endoteleal, hati, limpa, dan organ-organ lainnya. Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikulo endoteleal melepaskan kuman kedalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk kebeberapa jaringan organ tubuh, terutama limpa, usus dan kandung empedu kemudian menyebabkan respon peradangan oleh endotoksin kemudian menyebabkab demam dan akhirnya bisa menimbulkan resiko kekurangan volume cairan, penurunan kesadaran ( Apatis ) dan perubahan persepsi sensori.
Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang
Gambaran klinis Typhus Abdominalis pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa tunas 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala, prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, nafsu makan kurang.
Walaupun gejala penyakit Typhus Abdominalis pada anak lebih bervariasi, secara garis besar gejala-gejala yang timbul dapat dikelompokan :
  1. Demam berlangsung 3 minggu, selama minggu pertama suhu tubuh berangsur-angsur naik (38,8OC-40OC), biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Minggu kedua masih berada dalam keadaan demam dan pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
  2. Gangguan saluran pencernaan, pada mulut terdapat napas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah. Lidah tertutup selaput putih, kotor, ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.
  3. Gangguan kesadaran, umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai somnolen, jarang sopor, koma atau gelisah. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan bradikardia dan epistaksis pada anak besar. (Ngastiyah, 2005 : 237).

Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan :
  • Darah tepi
Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa menurun atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit, mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama pada fase lanjut.
  • Pemeriksaan untuk kultur (biakan)
Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari rose spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses.
Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil biakan meliputi jumlah darah yang diambil, perbandingan volume darah dari media empedu, dan waktu pengambilan darah.
Volume 10-15 ml dianjurkan untuk anak besar, sedangkan pada anak kecil dibutuhkan 2-4 ml.Sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan untuk kultur hanya sekitar 0.5-1 ml.Bakteri dalam sumsum tulang ini juga lebih sedikit dipengaruhi oleh antibiotika daripada bakteri dalam darah. Biakan empedu terdapat basil Salmonella typhosa urine dan tinja, jika pemeriksaan selama 2 kali berturut-turut tidak didaptkan basil salmonella typhosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan sembuh.
  • Pemeriksaan widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella typhi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. (Suriadi, 2006 : 283 dan Ngastiyah, 2005 : 238).
Tata Laksana
Dalam manajemen medik untuk penderita typhus abdominalis mencakup 3 hal yaitu :
  • Diet
Makanan untuk penderita typhus abdominalis adalah makanan yang  sesuai dengan keadaan penderita dengan memperhatikan segi kualitas ataupun kuantitas dapat diberikan dengan aman. Kualitas makanan disesuaikan dengan kebutuhan baik kalori, protein, elektrolit, vitamin ataupun mineral serta diusahakan makanan yang rendah atau bebas serat dan menghindari makanan yang bersifat iritatif. Bila kesadaran klien menurun diberikan makanan cair melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan klien baik dapat juga diberikan makanan lunak dengan tujuan agar tidak merusak plaks peyer yang membesar atau menipis dan mencegah perforasi sarta perdarahan.
  • Perawatan
Pasien typhus abdominalis perlu di rawat di Rumah Sakit untuk isolasi observasi dan pengobatan, pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 5-7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari maksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi terjadinya komplikasi perdarahan usus dan perporasi usus, mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Finger (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Maka dari itu kita harus selalu menjaga dan melakukan perawatan secara maksimal supaya bisa mencegah penularan tersebut terjadi.
  • Pengobatan

1)      Kloramfenikol
Merupakan obat antimikroba pilihan utama untuk typhus abdominalis. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi, yaitu 25 mg/kg BB (maksimum 1 gram per dosis) diberikan 4 kali sehari peroral atau intravena.
2)      Kotrimoksazol
Efektifitasnya  kurang lehih sama dengan kloramfenikol digunakan sampai 7 hari bebas demam (1 tablet mengandung 80 mg trimetoprin dan 400 mg sulfa metoksazol)
3)      Ampisilin dan Amoksilin
Indikasi mutlak penggunaannya adalah pasien typhus abdominalis dengan leucopenia. Dosis yang dianjurkan berkisar antara  75-150 mg/kg berat badan sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam. Dengan ampisilin atau amoksilin demam pada typhus abdominalis turun rata-rata setelah 7-9 hari
4)      Sefalosforin generasi ketiga
Golongan sefalosforin golongan ketiga yang terbukti efektif untuk penyakit typhus abdominalis adalah seftiakson, dosis yang dianjurkan adalah 3-4 gram dalam dektrosa 100 cc diberikan selama setengah jam  perinfus sekali sehari, diberikan selama 3-5 hari. (Rampengan, 2008 : 58-62).
Terapi empirik yang banyak digunakan di berbagai negara adalah golongan fluorokuinolon. Namum demikian, resistensi fluorokuinolon telah meluas, sehingga golongan generasi ketiga sefalosporin yang diberikan secara injeksi dapat merupakan obat pilihan dalam tata laksana typhus.
Komplikasi Typhus Abdominalis
  • Sistem Persyarafan
Klien dengan penyakit typhus abdominalis ini dapat mengakibatkan terjadinya peradangan oleh bakteri yang mengenai seluruh organ tubuh melalui pembuluh limfa diantaranya, saraf pusat atau otak. Dan hal ini dapat menyebabkan menurunnya kesadaran klien dari apatis, somnolen hingga sopor apabila penyakit tersebut terlambat dalam penanganannya (Ngastiyah, 2005 : 237).
  • Sistem Kardiovaskuler
Kuman salmonella masuk kedalam usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa (Ig A) usus kurang baik maka kuman menembus sel epitel (terutama sel M) dan selanjutnya kelamina  propia. Dilamina propia kuman di fagosit oleh sel-sel fagosit terutama makrophage. Makrophage pada penderita akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines, selanjutnya monokines ini dapat menyebabkan instabilitas vaskuler dan mengakibatkan adanya gangguan sirkulasi yaitu perubahan tanda-tanda vital seperti bradikardi pada perabaan nadi (Rampengan 2008 : 63).
  • Sistem Pernafasan
Jika klien dalam keadaan demam biasanya frekuensi dan kedalaman nafas meningkat. Peningkatan tersebut dapat juga terjadi akibat nyeri karena peradangan usus halus. Hal ini merangsang sinyal dari sumsum tulang belakang dihantarkan melalui dua jalur yaitu spinal thalamus traktus (STT) ke spinal respiratori traktus (SRT), dari spinal respiratori traktus dihantarkan ke medulla oblongata hingga mengakibatkan neural inspiratory yang akan meningkatkan frekuensi nafas (Mansyur, 2002 : 42).
  • Sistem Muskuloskeletal
Pada typhus abdominalis kemungkinan akan terjadi keluhan yang berhubungan dengan sistem musculoskeletal berupa nyeri otot, kelemahan fisik akibat produksi makrophage yang menghasilkan monokises yang mengakibatkan nekrosis seluler. Biasanya klien mengalami osteomielitis yang disebabkan oleh bakteri yang masuk pada jaringan tulang melalui pembuluh darah (Rampengan : 2008 : 56)
  • Sistem Perkemihan
Pada penderita typhus abdominalis ini biasanya terjadi peningkatan suhu tubuh sehingga akan mengakibatkan terjadinya diaforesis yang berlebih lewat keringat akibatnya penderita biasanya lebih banyak minum dan ini akan meningkatkan kerja ginjal, sehingga klin akan sering mengalami BAK (Ngastiyah, 2005 : 237 ).
  • Sistem Integumen
Klien dengan penyakit typhus abdominalis ini dapat terjadi kerusakan integritas kulit seperti lesi. Hal ini disebabkan karena klien mengalami bedrest. Selain itu emboli basil dalam kapiler kulit terutama pada daerah punggung dan anggota gerak dapat ditemukan adanya roseola yaitu berupa bintik-bintik kemerahan yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam (Ngastiyah, 2005 : 237).
  • Sistem Pencernaan
Komplikasi pada usus halus umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering fatal.
1)      Perdarahan usus
Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi melena, dapat disertai nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan.
2)      Perforasi usus
Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto Rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
3)      Peritonitis
Biasanya disertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang.
  • Komplikasi di luar usus, terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia), yaitu meningitis, kolesistisis, ensefalopati, dan lain-lain. Terjadi karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia. (Ngastiyah, 2005 : 237).