PENDAHULUAN
Tonsilofaringitis akut digunakan untuk menunjukkan semua infeksi faring dan tonsil yang berlangsung hingga 14 hari. Tonsilofaringitis merupakan peradangan membran faring dan struktur lain di sekitanya. Keterlibatan tonsil pada faringitis tidak menyebabkan perubahan derajat beratnya penyakit.
Tonsilofaringitis disebabkan oleh bakteri atau virus. Oleh karena itu diperlukan strategi untuk melakukan diagnosis dan memberikan tatalaksana agar dapat membedakan pasien yang membutuhkan antibiotik, dan mencegah serta meminimalkan penggunaan medikamentosa yang tidak perlu.
ETIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI
Tonsilofaringitis adalah penyakit yang sering terjadi pada anak, meskipun jarang terjadi pada anak di bawah usia 1 tahun. Insiden meningkat sesuai dengan bertambahnya usia, mencapai puncak pada umur 4-7 tahun dan berlanjut hingga dewasa. Insiden Tonsilofaringitis Streptokokus tertinggi pada usia 5-18 tahun, jarang di bawah usia 3 tahun dan sebanding antara laki- laki dan perempuan.
Virus merupakan etiologi terbanyak tonsilofaringitis akut, terutama pada anak berusia ≤3 tahun (pra sekolah). Virus penyebab penyakit respiratori seperti Adenovirus, Rhinovirus, Parrainfluenza virus dapat menjadi penyebab tonsilofaringitis. Virus Epstein Barr (EBV) dapat menyebabkan tonsilofaringitis, tetapi disertai dengan gejala infeksi mononukleosis seperti splenomegali dan limfadenopati generalisata. Infeksi sistemik seperti virus campak, virus Rubella, Citomegalovirus (CMV), dan berbagai virus lainnya juga dapat menyebabkan gejala tonsilofaringitis akut.
Streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA) adalah penyebab terbanyak tonsilofaringitis akut. bakteri tersebut mencakup 15-30% dari tonsilofaringitis akut pada anak, sedangkan pada dewasa hanya sekitar 5-10% kasus. Streptokokus grup A biasanya bukan penyebabyang umum pada anak usia prasekolah, tetapi pernah dilaporkanterjadi di tempat penitipan anak.
PATOGENESIS
PATOGENESIS

Orofaring dan nasofaring adalah tempat untuk organisme ini. Bakteri atau virus dapat masuk mukosa faring melalui droplet. Akibatnya terjadi respon inflamasi lokal yang melibatkan nasofaring, uvula dan palatum molle. Dalam perjalanannya akan terbentuk eritem faring, tonsil atau keduanya. Gejala akan tampak setelah masa inkubasi 24-72 jam. Penyebaran Streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA) memerlukan pejamu yang rentan dan difasilitasi dengan kontak yang erat. Kontak langsung dengan benda yang terkontaminasi seperti sikat gigi merupakan cara penularan yang kurang berperan demikian juga penularan melalui makanan.
DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tonsilofaringitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan laboratorium. Gejala berupa demam mendadak, gatal dan nyeri saat menelan, nyeri sendi, lesu, berkurangnya nafsu makan, suara serak, dan nyeri telinga merupakan gejala yang umum tampak pada tonsilofaringitis. Beberapa gejala lainnya meliputi batuk, konjungtivitis dan diare adalah tanda umum dari infeksi virus pada tonsilofaringitis. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan tonsil yang membengkak, disertai kripte yang jelas, tampak bercak2 putih (eksudat) yang menyebar pada tonsil dan faring, faring hiperemis, submandibula membengkak dan nyeri tekan.
Gold standar/ baku emas penegakan diagnosis tonsilofaringitis bakteri atau virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari apusan tenggorok. Tetapi Kriteria Centor dapat memudahkan praktisi kesehatan untuk membedakan apakah Tonsilofaringitis yang ditemui disebabkan oleh bakteri atau virus, dengan demikian memberikan pertimbangan rasional tentang terapi yang akan diberikan pada pasien.

Untuk mengingat dengan mudah maka dibuat singkatan :
· C - Cough absent, or the incorrect but memorable "Can't Cough"
· E - Exudate
· N - Nodes
· T - temperature (fever)
· OR - young OR old modifier
Dengan Kriteria Centor di atas dapat membantu praktisi kesehatan untuk mendiagnosa kemungkinan penyebab dari Tonsilofaringitis akut apakah mengarah ke infeksi virus atau bakteri Streptokokus.
TATALAKSANA
Pasien tonsilofaringitis akut dengan demam disarankan untuk istirahat total. Pemberian diet dan cairan yang adekuat menjadi penting mengingat adanya kemungkinan asupan nutrien tidak mencukupi disebabkan oleh nyeri tenggorokan. Untuk terapi obat, dapat digunakan antibiotik golongan penisilin, sulfonamida, cephalosporin dan makrolida yang berfungsi untuk membunuh bakteri yang menyerang. Antipiretik juga digunakan jika terdapat demam atau nyeri berlebih. Pemberian obat kumur dan obat hisap pada anak juga dapat mengurangi gejala nyeri tenggorok. Tindakan pembedahan tonsilektomi dilakukan ketika terjadi serangan berulang yang mengganggu.
Penggunaan kriteria Centor untuk menentukan tatalaksana pasien tonsilofaringitis akut juga sangat bermanfaat. Karena menurut McIsaac et al (2004) kriteria ini memiliki sensitifitas dan spesifisitas > 90%. Sehingga pemberian terapi dapat lebih rasional terutama dalam pemberian antibiotika.
DAFTAR PUSTAKA
1. Boies, Lawrence R., et al. BOIES : Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 1997..
Ovedof, David. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Binarupa Aksara.
Ovedof, David. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Binarupa Aksara.
2. Centor RM; Witherspoon JM; Dalton HP; Brody CE; Link K (1981). "The diagnosis of strep throat in adults in the emergency room". Medical Decision Making. 1 (3): 239–246
3. McIsaac WJ; Kellner JD; Auricht P; Vanjaka A; Low DE (7 Aprili 2004). "Empirical Validation of Guidelines for The Management of Pharyngitis in Children and Adults". Journal of the American Medical Association. 291 (13) : 1587-1595
4. Soepardi, Efiaty A. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2000.
3. McIsaac WJ; Kellner JD; Auricht P; Vanjaka A; Low DE (7 Aprili 2004). "Empirical Validation of Guidelines for The Management of Pharyngitis in Children and Adults". Journal of the American Medical Association. 291 (13) : 1587-1595
4. Soepardi, Efiaty A. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2000.
5. Thomas, Benoy J. Pharyngitis, Bacterial. [online]. 2006 August 1 [cited 200 June 21]; available from : URL: http://www.emedicine.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar